Senin, 11 Mei 2009

membunuh sepi

Aku hanya ingin bernyanyi, berteriak, atau bergumam sendiri seperti anak ayam yang hilang arah, tak apalah kalau orang orang disekitarku menganggapnya kurang waras lagi, aku tak mau mempedulikannya...biarlah mereka tertawa.

Pagi ini aku hanya ingin mengusir rasa rinduku padamu, sungguh rindu ini membatu, sulit untuk kubuang bahkan sekali pun kupecahkan menjadi kerikil kerikil kecil yang dapat kulempar pada laki laki lain, padahal sumpahku semalam yang tak mau lagi menyebutkan namamu lagi dalam peraduan mimpi, atau sekedar berkata kata basa basi dalam sms sial telah membulat.

Berat sekali untuk menerima kenyataan bahwasannya kau hanyalah angan angan belaka, segala dustamu yang kau tutup rapi itu kini terbelalak didepan mataku, apalah mau dikata, memang itulah dirimu, yang penuh dengan isyarat…raut yang susah untuk kuterka, dan kau sama saja seperti pria lainnya yang pernah mampu menggenggam tanganku, ujung cerita bermula intro dan intrik mematikan rasa...

Sayangnya ketika aku ingin memburu nafas diatas tubuhmu dan melepaskan penat lelah hidupku, kau tak pernah datang menghampiri, aku hanyalah dewi kesepian dihamparan pasir sahara seperti apa katamu dulu, kau hanya membiarkanku tersiksa dicabik sepi dan kau hanya menjadikanku pelampiasan kepedihan hidup yang menderamu.
Sudahlah, tinggalkan aku dikasur bisu ini, takan pernah lagi kau mendengar desahan jiwa yang mengalunkan nada rindu menggerutu lagi.

Biarlah sepi ini kubunuh dengan caraku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar