Kamis, 07 Mei 2009

terima kasih bintang

Saat ini,
sebelum mentari tersenyum di timur
sebelum embun menghapus kelam
aku ingin berbisik pada bintang:

: Terima kasih, bintang
`tuk menemaniku malam ini
dan malam-malamku sebelumnya
Memang sih…kau jauh di sana
namun binarmu mampu mengusik sepiku
setidaknya…
aku tak pernah merasa sendiri
walau nyata sekali
kalau aku cuma punya sepi dan mimpi.

: Terima kasih, bintang
Kembali aku berbisik.
Saat ini, sebelum aku melangkah
aku ingin memandangmu, sekali lagi
Mengenang senyummu, atau celoteh yang
pernah kau titipkan lewat angin
Ya…cuma lewat angin
Karena kau sungguh jauh di sana.

: Memang sih…sesekali kau berkedip
namun sejujurnya
itu tak cukup menghalau laraku
apalagi saat ini aku lagi bertarung dengan nasib
dan bergumul dengan luka.
Ah…mana kau mengerti
Karena kau jauh di sana
Di bentangan cakrawala nan kelam
Sibuk berbagi binar pada makhluk-makhluk malam.

: Selamat malam, bintang
Demikian aku selalu menyapamu dan kau tersenyum
Tahukah kau, bisikku lagi
aku bahagia. Itu cukup bagiku

Terkadang aku menitipkan rindu pada angin
Ya…lagi-lagi pada angin
Dan lagi-lagi
aku merasa cukup
setidaknya kau ada dalam mimpiku,
begitu selalu aku berkata pada hatiku

Tapi,
Saat mendung mengabut di mataku
atau terkadang guntur membuatku gemetar
aku mencarimu. Dan
tak kutemukan dirimu
karena kau jauh di sana
tak terjangkau angan

Hingga aku pun mengerti
kalau kau memang hanya bintang
yang mampu bersinar namun tak memberi hangat
yang mampu berbagi binar cuma dari kejauhan.
Ya…kau cuma bintang
yang pernah mengusir sunyiku,
toh sebentar lagi malam berganti pagi
dan kau pun `kan pergi
aku pun harus melangkah
menjejal pagi dengan asa
tanpamu
ya…tanpamu
karena kau cuma bintang
dan aku mengerti
saat aku benar-benar jatuh
kau tak pernah ada
karena kau jauh, jauh sekali…

tapi sebelum pagi benar-benar hadir
aku mau menyapamu
dan katakan sekali lagi
: terima kasih, bintang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar